Pages

Senin, 25 Maret 2013


KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA LANSIA






Kelompok 2 :
1.      Ekawahyuny M. S                 (101.0033)
2.      Erma Eka A                           (101.0039)
3.      Friska Retno W.K                  (101.0045)
4.      Rizki Amelia Y                      (101.0099)



BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dengan meningkatnya pertumbuhan populasi penduduk lanjut usia berbagai masalah klinis pada pasien lanjut usia akan menjadi semakin sering dijumpai di praktek klinis. Jumlah penduduk di Indonesia menurut data Perserikatan Bangsa Bangsa, Indonesia diperkirakan mengalami peningkatan jumlah warga lanjut usia yang tertinggi di dunia, yaitu 414 %, hanya dalam waktu 35 tahun (1990-2025), sedangkan di tahun 2020 diperkirakan jumlah penduduk lanjut usia akan mencapai 25,5 juta. Menurut Lembaga Demografi Universitas Indonesia, persentase jumlah penduduk berusia lanjut tahun 1985 adalah 3,4 % dari total penduduk, tahun 1990 meningkat menjadi 5,8 % dan di tahun 2000 mencapai 7,4 % (Czeresna, 2006).
Terdapat banyak bukti bahwa kesehatan yang optimal pada pasien lanjut usia tidak hanya bergantung pada kebutuhan biomedis akan tetapi juga tergantung dari perhatian terhadap keadaan sosial, ekonomi, kultural dan psikologis pasien tersebut. Walaupun pelayanan kesehatan secara medis pada pasien lanjut usia telah cukup baik tetapi mereka tetap memerlukan komunikasi yang baik serta empati sebagai bagian penting dalam penanganan persoalan kesehatan mereka. Komunikasi yang baik ini akan sangat membantu dalam keterbatasan kapasitas fungsional, sosial, ekonomi, perilaku emosi yang labil pada pasien lanjut usia (William et al., 2007).
Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertahankan dan meningkatkan kontrak dengan oran lain karena komunikasi dilakukan oleh seseorang, setiap hari orang seringkali salah berpikir bawa komunikasi adalah sesuatu yang mudah. Namun sebenarnya adalah proses yang kompleks yang melibatkan tingkah laku dan hubungan serta memungkinkan individu berasosiasi dengan orang lain dan dengan lingkungan sekitarnya. Hal itu merupakan peristiwa yang terus berlangsung secara dinamis yang maknanya dipacu dan ditransmisikan.
Untuk memperbaiki interpretasi pasien terhadap pesan, perawat harus tidak terburu-buru dan mengurangi kebisingan dan distraksi. Kalimat yang jelas dan mudah dimengerti dipakai untuk menyampaikan pesan karena arti suatu kata sering kali telah lupa atau ada kesulitan dalam mengorganisasi dan mengekspresikan pikiran. Instruksi yang berurutan dan sederhana dapat dipakai untuk mengingatkan pasien dan sering sangat membantu. (Bruner & Suddart, 2001 : 188).
Komunikasi adalah proses interpersonal yang melibatkan perubahan verbal dan non verbal dari informasi dan ide. Kominikasi mengacu tidak hanya pada isi tetapi juga pada perasaan dan emosi dimana individu menyampaikan hubungan ( Potter-Perry, 301 ).

1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Komunikasi Terapeutik ?
2.      Apa saja faktor yang mempengaruhi komunikasi pada pasien lanjut usia ?
3.      Bagaimana teknik komunikasi terapeutik pada lansia ?
4.      Apa saja hambatan komuikasi ?
5.      Bagaimana penggunaan komunikasi terapeutik pada lansia ?

1.3  Tujuan
1.3.1        Tujuan Umum
a.       Untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunitas III.
b.      Mahasiswa mampu memahami dan membuat makalah Komunikasi Terapeutik Pada Sasaran Lansia.
1.3.2        Tujuan Khusus
a.       Mampu memahami pengertian Komunikasi Terapeutik.
b.      Mampu menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi.
c.       Mampu memahami teknik komunikasi terapeutik pada lansia.
d.      Mampu memahami hambatan dalam berkomunikasi.


1.4  Manfaat
1.      Mahasiswa mampu memahami pengertian Komunikasi Terapeutik.
2.      Mahasiswa mampu menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi.
3.      Mahasiswa mampu memahami teknik komunikasi terapeutik pada lansia.
4.      Mahasiswa mampu memahami hambatan dalam berkomunikasi.


BAB II
TINJAUAN TEORITIS


2.1    Komunikasi Terapeutik Pada Sasaran Lansia
2.1.1        Karakteristik Lansia
Berdasarkan usianya, organisasi kesehatan dunia (WHO) menegelompokkan usia lanjut menjadi empat macam, meliputi :
-          Usia pertengahan (middle age), kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
-          Usia lanjut (elderly), kelompok usia antara 60 sampai 70 tahun.
-          Usia lanjut usia  (old), kelompok usia antara 75 sampai 90 tahun.
-          Usia tua (very old), kelompok usia diatas 90 tahun.
Meskipun batasan usia sangat beragam untuk menggolongkan lansia namun perubahan-perubahan akibat dari usia tersebut telah dapat diidentifikasi, misalnya perubahan pada aspek fisik berupa perubahan neurologis dan sensorik, perubahan visual, perubahan pendengaran. Perubahan-perubahan tersebut dapat menghambat proses penerimaan dan interpretasi terhadap maksud komunikasi. Perubahan ini juga menyebabkan klien lansia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Belum lagi perubahan kognitif yang berpengaruh pada tingkat intelegensia, kemampuan belajar, daya memori dan motivasi klien.
Perubahan emosi yang ering nampak adalah berupa reaksi penolakan terhadap kondisi yang terjadi. Gejala-gejala penolakan tersebut misalnya :
-        Tidak percaya terhadap diagnosa, gejala, perkembangan serta keterangan yang diberikan petugas kesehatan.
-          Mengubah keterangan yang diberikan sedemikian rupa, sehingga diterima keliru.
-          Menolak membicarakan perawatannya di rumah sakit.
-    Menolak ikut serta dalam perawatan dirinya secara umum, khususnya tindakan yang langsung mengikutsertakan dirinya.
-     Menolak nasehat-nasehat misalnya, istirahat baring, berganti posisi tidur, terutama bila nasehat tersebut demi kenyamanan klien.

2.1.2        Pengertian Komunikasi Terapeutik
Komunikasi merupakan suatau hubungan atau kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan masalah hubungan atau dapat diartikan sebaagai saling tukar-menukar pendapat serta dapat diartikan hubungan kontak antara manusia baik individu maupun kelompok. (Widjaja, 1986 : 13).
Komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertahankan, dan meningkatkan kontak dengan orang lain. (Potter & Perry, 2005 : 301).
Indrawati (2003), mengemukakan bahwa komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien.
Komunikasi terapeutik adalah hubungan kerja sama yang ditandai dengan tukar menukar perilaku, perasaan, fikiran dan pengalaman dalam membina hubungan intim terapeutik (Stuart dan Sundeen).

2.1.3        Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi pada Pasien lanjut usia
Komunikasi dengan pasien lanjut usia dapat menjadi lebih sulit dibandingkan dengan komunikasi pada populasi biasa sebagai akibat dari gangguan sensori yang terkait usia dan penurunan memori. Orang ketiga juga dapat menjadi bagian dari interaksi, karena pasien lanjut usia seringkali ditemani oleh anggota keluarga yang dicintai yang aktif terlibat pada perawatan pasien dan berpartisipasi dalam kunjungan. Ada banyak faktor lain yang mempengaruhi efektivitas komunikasi dengan pasien lanjut usia. Pasien lanjut usia sering hadir dengan masalah yang kompleks dan beberapa keluhan utama, yang memerlukan waktu untuk menyelesaikannya.
Untuk setiap dekade kehidupan setelah usia 40 tahun, pasien kemungkinan mengalami satu penyakit kronik baru. Sehingga pada usia 80 tahun, orang kemungkinan memiliki paling tidak 4 penyakit kronis (Vieder et al., 2002). Faktor lain adalah bahwa pasien lanjut usia umumnya lebih sedikit bertanya dan menunggu untuk ditanya sesuai kewenangan dokter (Haug & Ory, 1987;Greene et al.,1989). Masalah usia atau dikenal dengan istilah ageism juga merupakan hal yang lazim dijumpai pada perawatan kesehatan dan secara tidak sengaja berperan terhadap buruknya komunikasi dengan pasien lanjut usia (Ory et al., 2003)

2.1.4        Kegunaan Komunikasi
Komunikasi berguna untuk pertukaran informasi dan untuk membina hubungan dengan orang lain, atau dengan kata lain komunikasi merupakan aspek dasar pada hubungan antar manusia dan merupakan sarana untuk berhubungan dengan orang lain. Pada pasien lanjut usia berbagai bentuk dari penyakit dan ketidakmampuan dapat berpengaruh terhadap proses komunikasi dan perawatan kesehatannya, sehingga diperlukan cukup perhatian dan sikap yang baik untuk proses komunikasi tersebut Sering kali terjadi bahwa baik pihak keluarga maupun medis melupakan atau tidak memperhatikan berbagai hambatan yang ada untuk tercapainya komunikasi yang efektif pada pasien lanjut usia yang akhirnya dapat mengakibatkan interpretasi yang keliru terhadap pesan yang disampaikan maupun yang diterima oleh mereka (Smith & Buckwalter, 1993).

2.1.5        Komponen Pada Proses Komunikasi
1.      Pembicara : Orang yang menyampaikan pesan.
2.      Pendengar : Orang yang menerima pesan.
3.      Pesan verbal : Kata kata yang secara aktual diucapkan atau disampaikan.
4.      Pesan nonverbal: Kesan yang ditangkap saat kata kata tersebut diucapkan termasuk ekspresi wajah, tekanan suara, postur dan sikap tubuh dan pilihan kosa kata yang digunakan.
5.      Umpan Balik : Respon berupa tanggapan baik verbal maupun non verbal.
6.      Konteks : Fisik dan lingkungan sosial atau pengaturan dalam pesan yang dikirim.
7.      Persepsi : Kemampuan untuk memilih, mengatur, dan menafsirkan informasi indrawi menjadi dimengerti dan bermakna.
8.      Evaluasi : Kemampuan untuk menganalisa informasi yang diterima, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan masa lalu.
9.      Transmisi : Ekspresi yang sebenarnya dari informasi dari pengirim kepada penerima (pesan lisan dan pesan nonverbal) (Smith & Buckwalter, 1993).

2.1.6        Hal-hal yang perlu diperhatikan saat berinteraksi pada lansia
1.      Menunjukkan rasa hormat, seperti “bapak”, “ibu”, kecuali apabila sebelumnya pasien telah meminta anda untuk memanggil panggilan kesukaannya.
2.      Hindari menggunakan istilah yang merendahkan pasien.
3.      Pertahankan kontak mata dengan pasien.
4.      Pertahankan langkah yang tidak tergesa-gesa dan mendengarkan adalah kunci komunikasi efektif.
5.      Beri kesempatan pasien untuk menyampaikan perasaannya.
6.      Berbicara dengan pelan, jelas, tidak harus berteriak, menggunakan bahasa dan kalimat yang sederhana.
7.      Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti pasien.
8.      Hindari kata-kata medis yang tidak dimengerti pasien.
9.      Menyederhanakan atau menuliskan instruksi.
10.  Mengenal dahulu kultur dan latar belakang budaya pasien.
11.  Mengurangi kebisingan saat berinteraksi, beri kenyamanan, dan beri penerangan yang cukup saat berinteraksi.
12.  Gunakan sentuhan lembut dengan sentuhan ringan di tangan, lengan, atau bahu.
13.  Jangan mengabaikan pasien saat berinteraksi (adelman, et al 2000).

2.2    Teknik Komunikasi Terapeutik Pada Lansia
2.2.1        Teknik Umum untuk Berkomunikasi dengan Pasien lanjut usia
a.         Menunjukkan Hormat dan Keprihatinan
Komunikasi pasien yang baik didasarkan pada respect atau hormat kepada pasien dan memahami serta mengapresiasi setiap pasien sebagai sosok manusia yang unik. Untuk menunjukkan rasa hormat, anda harus menghadapi pasien secara formal dan menyapa dengan “Bapak” atau “Ibu”, kecuali pasien sebelumnya telah meminta anda untuk memanggil dengan nama pertamanya, dan hindarkan menggunakan istilah yang merendahkan seperti “manisku”, “sayangku”, ‘cintaku”.
Berkomunikasi yang saling bertatap mata dengan duduk di kursi dan langsung menatap pasien. Dengan melakukan hal ini, anda menunjukkan perhatian sejati dan aktif mendengarkan, serta membantu pasien untuk mendengar dan memahami anda secara lebih baik. Sentuhan lembut di tangan, lengan, atau pundak pasien akan menyampaikan rasa turut prihatin dan perhatian (Adelman et al., 2000).
b.      Memastikan bahwa Pasien Didengar dan Dipahami
Mempertahankan langkah yang tidak tergesa-gesa dan mendengarkan adalah kunci komunikasi efektif antara pasien lanjut usia dan dokter (Adelman et al., 2000 ; Ory et al., 2003). Membiarkan pasien lanjut usia untuk berbicara beberapa menit tentang masalahnya tanpa interupsi akan memberikan lebih banyak informasi daripada riwayat pendukung yang terstruktur cepat. Merasa sedang diburu-buru akan menyebabkan mereka merasa bahwa mereka sedang  tidak didengarkan atau dipahami (Adelman et al., 2000). Penelitian menunjukkan bahwa pasien lanjut usia dan dokter sering tidak sepaham tentang tujuan dan masalah medis yang dihadapi. Komunikasi yang buruk dapat mengganggu pertukaran informasi serta menurunkan kepuasan pasien (Greene et al., 1989).
Pada umumnya, anda harus berbicara pelan, jelas, dan keras tanpa berteriak, menggunakan bahasa dan kalimat yang singkat dan sederhana. Karena pasien lanjut usia umumnya lebih sedikit bertanya dan menunggu untuk ditanya sesuai kewenangan dokter, khususnya penting untuk sering merangkum dan memancing pertanyaan (Adelman et al., 2000;Robinson et al., 2006).
Strategi Umum Tambahan untuk Memperbaiki Komunikasi dengan Pasien Lanjut Usia.
-       Menggabungkan data pendahuluan sebelum perjanjian untuk bertemu, karena pasien pasien lanjut usia khas memiliki berbagai masalah kesehatan yang kompleks.
-       Meminta pasien menceritakan keluhannya hanya sekali (yaitu tidak bercerita dulu kepada perawat atau asisten kemudian baru kepada anda) untuk meminimalkan frustasi dan kelelahan pasien.
-       Menghindarkan jargon medis.
-       Menyederhanakan dan menuliskan instruksi.
-       Menggunakan diagram, model, dan gambar.
-       Menjadwalkan pasien lanjut usia terlebih dahulu, karena mereka umumnya lebih siap dari segi waktu dan secara klinis cenderung kurang sibuk. Sumber : Adelman et al., 2000;Robinson et al., 2006.
c.       Menghindari Ageism
Salah satu hal terpenting yang harus diingat ketika berkomunikasi dengan pasien lanjut usia adalah menghindarkan ageism. Ageism, suatu istilah yang pertama disampaikan oleh Robert Butler, direktur pertama the National Institute on Aging, adalah systematic stereotyping dan diskriminasi terhadap seseorang karena mereka berusia lanjut (Butler, 1969). Ageism adalah hal yang lazim pada perawatan kesehatan dan dapat direfleksikan dalam tindakan seperti meremehkan masalah medis, menggunakan bahasa yang bersifat merendahkan, hanya memberikan sedikit edukasi tentang regimen preventif, menawarkan sedikit pengobatan untukmasalah kesehatan mental, menggunakan panggilan yang bernada menghina, menghabiskan lebih sedikit masalah psikososial, dan membuat stereotype orang tua (Ory et al., 2003).
Untuk menghindarkan ageism, mulailah mengenal pasien lanjut usia sebagai satu pribadi dengan riwayat dan penyelesaian yang jelas. Pendekatan ini memungkinkan anda untuk menemui setiap pasien lanjut usia sebagai individu yang unik dengan pengalaman seumur hidup yang berharga bukan orang tua yang tidak produktif dan lemah (Roter, 2000). Juga penting untuk tidak mengasumsikan bahwa semua pasien lanjut usia adalah sama. Bisa saja dijumpai “orang berjiwa muda” dengan usia 85 tahun serta “orang berjiwa tua” dengan usia 60 tahun. Setiap pasien dan setiap masalah harus diperlakukan dengan unik.
d.      Mengenal Kultur dan Budaya
Mengenal latar belakang kultur dan budaya pasien untuk kemudian mengaplikasikannya dalam komunikasi dokter-pasien lanjut usia juga merupakan hal penting dalam mempengaruhi persepsi pasien terhadap baik dan berkualitasnya pelayanan kesehatan yang diberikan dokter (Ong et al., 1995)

2.2.2        Pendekatan untuk Berkomunikasi
Ketika berkomunikasi dengan pasien lanjut usia dengan pendengaran yang berkurang, tataplah pasien sehingga pasien dapat membaca bibir dan menggunakan isyarat mata. Meminimalkan kebisingan, dan berbicara pelan, jelas, dan dalam nada yang normal. Berteriak akan menghambat komunikasi, mengubah nada berfrekuensi tinggi, dan mempersulit pasien untuk memahami kata-kata anda. Jika suara anda melengking, meredam lengkingan ketika anda berbicara dapat membantu pasien untuk mendengar anda dengan lebih baik. Ketika memberikan instruksi untuk medikasi, tes, atau pengobatan, hindarkan untuk bertanya kepada pasien apakah dia mengerti. Orang dengan gangguan pendengaran mungkin akan menjawab “ya” tanpa menyadari bahwa mereka belum mendengar apapun atau salah memahami beberapa informasi.
Pendekatan yang lebih baik untuk mengecek pemahaman pasien adalah dengan meminta pasien untuk mengulang instruksi (Adelman et al., 2000). Akhirnya, karena pendengaran memburuk dikemudian hari, appointment yang lebih awal umumnya lebih baik (Veras & Mattos, 2007). Jika tersedia, pengeras suara (alat portable yang memperkuat suara dokter dan memancarkannya ke headphones yang dipakai oleh pasien) diketahui sangat memudahkan komunikasi dengan pasien yang mengalami gangguan pendengaran (Fook & Morgan, 2000). Ketika berkomunikasi dengan pasien dengan gangguan penglihatan, lingkungan klinik dapat diperbaiki dengan memperbanyak pencahayaan, menggunakan warna-warna kontras untuk membuat objek lebih jelas (mis. kerangka pintu, kursi yang berada dilantai klinik), dan menggunakan huruf yang besar serta berwarna kontras untuk setiap tanda. Setiap bahan dengan tulisan harus dicetak paling tidak dengan huruf berukuran 14 diatas kertas berwarna. Direkomendasikan untuk menggunakan dua sumber cahaya, pencahayaan untuk latar belakang dan lampu tertutup (Roter, 2000).
Ketika membahas rencana pengobatan, ingatlah masalah keamanan potensial yaitu gangguan penglihatan. Sebagai contoh, pasien lanjut usia kadang-kadang akan meletakkan obatnya dalam satu wadah dan tergantung pada satu warna untuk mengenalinya. Ini dapat menjadi masalah keamanan, karena banyak obat yang berwarna putih, biru muda, hijau muda, yang akan terlihat berwarna abu-abu oleh mata yang telah menua. Warna merah, oranye, dan kuning paling baik dilihat dan dapat digabungkan kedalam perawatan. Pada contoh lain, pasien yang mengalami kesulitan memastikan dosis insulin dapat diinstruksikan untuk ditempatkan pada warna merah diatas meja, yang akan mempermudahnya untuk melihat jarum dan vial. Kertas kontak berwarna merah dapat dibalutkan pada pegangan untuk berjalan, tongkat atau tabung oksigen untuk membantu pasien lanjut usia untuk mengambilnya (Adelman et al., 2000).
2.2.2.1      Pendekatan fisik
Mencari informasi tentang kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian, yang dialami, peruban fisik organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa di capai dan di kembangkan serta penyakit yang dapat di cegah progresifitasnya. Pendekatan ini relative lebih mudah di laksanakan dan di carikan solusinya karena rill dan mudah di observasi.
2.2.2.2      Pendekatan psikologis
Karena pendekatan ini sifatnya absrak dan mengarah pada perubahan prilaku, maka umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama. Untuk melaksanakan pendekatan ini perawat berperan sebagai konselor, advokat, supporter, interpreter terhadap sesuatu yang asing atau sebagai penampung masalah-masalah yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrap bagi klien.
2.2.2.3      Pendekatan social
Pendekatan ini di lakukan untuk menikatkan keterampilan berinteraksi dalam lingkungan. Mengadakan diskusi, tukar pikiran, bercerita, bermain, atau mengadakan kegiatan-kegiatan kelompok merupakan implementasi dari pendekatan ini agar klien dapat berinteraksi dengan sesama lisan maupun dengan petugas kesehatan.
2.2.2.4      Pendekatan spiritual
Perawat harus bisa membeikan kepuasan batin dalam hubunganya dengan Tuhan atau agama yang dianutnya terutama ketika klien dalam keadaan sakit.

2.2.3        Hambatan Komuikasi
2.2.3.1      Pasien dengan Defisit Sensorik
Beberapa pasien menunjukkan defisit pendengaran dan penglihatan yang terkait dengan usia, keduanya memerlukan adaptasi dalam berkomunikasi. Penelitian mengindikasikan bahwa 16% - 24% individu berusia lebih dari 65 tahun mengalami pengurangan pendengaran yang mempengaruhi komunikasi (Crews & Campbell, 2004 ; Mitchell, 2006). Bagi mereka yang berusia diatas 80 tahun, jumlah gangguan sensorik meningkat menjadi lebih dari 60% (Chia et al., 2006). Aging/penuaan mengakibatkan penurunan fungsi pendengaran yang dikenal sebagai presbyacussis, yang terutama berkenaan dengan suara berfrekuensi tinggi. Suara berfrekuensi tinggi adalah suara konsonan yang berdampak pada pemahaman pasien diawal dan akhir kata. Sebagai contoh, jika anda berkata “Take the pill in the morning (Minumlah pil dipagi hari)”, pasien akan mendengar vokal dalam kata tetapi pasien dapat berpikir anda berkata “Rake the hill in the morning (Dakilah bukit dipagi hari)” (Fook & Morgan, 2000 ; Ross et al., 2007).
Gangguan visual yang berhubungan dengan usia meliputi reduksi diameter pupil; lensa mata menguning, yang mempersulit untuk membedakan warna dengan panjang gelombang pendek seperti lavender, biru, dan hijau; dan menurunkan elastisitas ciliary muscles, yang mengakibatkan penurunan akomodasi ketika bahan cetakan dipegang diberbagai jarak. Kebanyakan pasien lanjut usia mengalami penyakit mata yang menurunkan ketajaman penglihatan (mis. katarak, degenerasi macular, glaucoma, komplikasi ocular pada diabetes). Lebih dari 15% orang tua berusia lebih dari 70 tahun melaporkan penglihatannya yang buruk, dan 22% lagi melaporkan penglihatannya hanya cukup untuk jarak tertentu (Crews & Campbell, 2004). Bagi mereka yang berusia diatas 80 tahun, 30% melaporkan penglihatannya yang terganggu (Chia et al., 2006).

2.2.3.2      Pasein dengan Demensia
Amerika Serikat pada tahun 2008 diprediksi memiliki lebih kurang 5,2 juta penduduk berusia lanjut yang diantaranya menderita beberapa bentuk demensia, dan jumlahnya diprediksi akan meningkat dua kali lipat pada 30 tahun yang akan datang (Hingle & Sherry, 2009). Sebagai akibatnya, dokter dapat berharap untuk menemui lebih banyak pasien demensia dan pasien tersebut datang berkunjung ke dokter ditemani oleh anggota keluarga atau perawat nonformal lain (Vieder et al.,2002). (istilah caregiver digunakan dari point ini untuk merujuk pada setiap orang yang menemani kunjungan yang merupakan informal caregiver). Penilaian dan pengobatan pasien lanjut usia dengan demensia juga akan sangat membantu bila melibatkan caregiver (Roter, 2000).
Ada banyak tingkatan demensia, yang memiliki berbagai kesulitan komunikasi. Pasien pada stadium awal sering mengalami masalah untuk menemukan kata yang ingin disampaikan, pasien banyak menggunakan kata-kata yang tidak memiliki makna, seperti “hal ini”, “sesuatu”, dan “anda tahu”. Pada demensia parah, pasien dapat menggunakan jargon yang tidak dapat dipahami atau bisa hanya berdiam diri (Orange & Ryan, 2000).
Demensia memiliki efek yang merugikan pada penerimaan dan ekspresi komunikasi pasien. Sebagian besar pasien mengalami kehilangan memori dan mengalami kesulitan mengingat kejadian yang baru terjadi. Sebagian pasien demensia memiliki rentang konsentrasi yang sangat singkat dan sulit untuk tetap berada dalam satu topik tertentu (Miller, 2008).

2.2.3.3      Pasien yang Ditemani oleh Caregiver
Karakteristik utama kunjungan poliklinik geriatri adalah adanya orang ketiga, dengan seorang anggota keluarga atau caregiver informal lainnya yang hadir sedikitnya pada sepertiga kunjungan geriatrik (Roter, 2000). Meskipun caregiver dapat mengasumsikan berbagai peran, termasuk pendukung, peserta pasif, atau antagonis, pada sebagian besar kasus, caregiver menempatkan kesehatan orang yang mereka cintai sebagai prioritasnya. Caregiver sangat penting untuk sistem perawatan kesehatan lanjut usia. Mereka tidak hanya membantu dengan nutrisi, aktivitas kehidupan sehari-hari, tugas rumah tangga, pemberian obat, transportasi, dan perawatan lain untuk pasien lanjut usia, caregiver membantu memudahkan komunikasi antara dokter dan pasien serta mempertinggi keterlibatan pasien dalam perawatan mereka sendiri (Clayman et al., 2005 ; Wolff & Roter, 2008).
Juga merupakan hal penting untuk memperlakukan pasien lanjut usia dalam konteks atau sudut pandang caregiver-nya agar didapatkan hasil terbaik bagi keduanya (Griffith et al., 2004).
Adanya hambatan komunikasi kepada lansia merupkan hal yang wajar seiring dengan menurunya fisik dan pskis klien namun sebagai tenaga kesehatan yang professional perawat di tuntut mampu mengatasi hambatan tersebut untuk itu perlu adanya teknik atau tip-tip tertentu yang perlu di perhatikan agar komunikasi berjalan gengan efektif anatara lain :
a.    Selalu mulai komunokasi dengan mengecek pendengeran klien.
b.    Keraskan suara anda jika perlu.
c.    Dapatkan perhatian klien sebelum berbicara. Pandanglah dia agar dia dapat melihat mulut anda.
d.   Atur lingkungan sehinggga menjadi kondusif untuk komunikasi yang baik. Kurangi gangguan visual dan auditory. Pastikan adanya pencahayaan yang cukup.
e.    Ketika merawat orang tua dengan gangguan komunikasi, ingat kelemahannya. Jangan menganggap kemacetan komunikasi merupakan hasil bahwa klien tidak kooperatif.
f.     Jangan berharap untuk berkomunikasi denagn cara yang sama dengan orang yang tidak mengalami jangguan. Sebaliknya bertindaklah sebagai partner yang tugasnya memfasilitasi klien untuk mengungkapkan perasaan dan pemahamannya.
g.    Berbicara dengan pelan dan jelas saat menatap matanya gunakan kalimat pendek dengan bahasa yang sederhana.
h.    Bantulah kata-kata anada dengan isyarat visual.
i.      Bahasa tubuh anda denagn pembicaraan anda, misalnya ketika melaporkan hasil tes yang di inginkan, pesan yang menyatakan bahwa berita tersebut adalah bagus seharusnya di buktikan dengan ekspresi, postur dan nada suara anda yang menggembirakan (misalnya denagn senyum, ceria atau tertawa secukupnya).
j.      Hal-hal yang paling penting dari pembicaraan tersebut.
k.    Berilah klien waktu yang banyak untuk bertanya dan menjawab pertanyaan anda.
l.      Biarkan ia membuat kesalahan jangan menegurnya secara langsung, tahan keinginan anda menyelesaikan kalimat.
m.  Jadilah pendengar yang baik walaupun keinginan sulit mendengarkanya.
n.    Arahkan ke suatu topic pada suatu saat.
o.    Jika mungkin ikutkan keluarga atau yang merawat ruangan bersama anda. Orang ini biasanya paling akrap dengan pola komunikasi klien dan dapat membantu proses komunikasi.

2.3    Penggunaan Komunikasi Terapeutik Pada Lansia
2.3.1        Komunikasi Terapeutik pada Lansia dengan Masalah Fisik Maupun Mental
1.      Lansia dengan Gangguan Pendengaran :
a.       Berdiri dekat menghadap klien.
b.      Bertanya diarahkan pada telinga yang lebih baik.
c.       Berikan perhatian dan tunjukkan wajah saudara.
d.      Tegurlah nama sebelum pembicaraan dimulai.
e.       Gunakan pembicaraan yang keras, jelas, pelan, dan diarahkan langsung pada klien.
f.       Hindari pergerakan bibir yang berlebihan.
g.      Hindari memalingkan kepala, tidak berbalik atau berjalan saat bicara.
h.      Jika klien belum memahami, ulangi dengan menggunakan kata – kata yeng berbeda.
i.        Membatasi kegaduhan lingkungan.
j.        Gunakan tekanan suara yang sesuai.
k.      Berilah instruksi sederhana untuk mengevaluasi pembicaraan.
l.        Hindari pertanyaan tertutup, gunakan kalimat pendek saat bertanya.
m.    Gunakan bahasa tubuh yang sesuai dengan isi komunikasi.
2.      Lansia dengan tidak dapat mendengar (deaf) :
a.       Hampir sama dengan klien yang mengalami gangguan pendengaran, tetapi ditambah dengan beberapa teknik, yaitu :
b.      Menulis pesan jika klien dapat membaca.
c.       Gunakan media (gambar) untuk membantu komunikasi.
d.      Pernyataan dan pertanyaan yang singkat.
e.       Gunakan berbagai macam metode untuk menyampaikan pesan, contoh : body language.
f.       Sempatkanlah waktu bersama klien.
3.      Lansia dengan gangguan penglihatan :
a.       Perkenalkan diri, dekati klien dari depan.
b.      Jelaskan kondisi tempat dan orang yang ada.
c.       Bicaralah pada saat Anda mau meninggalkan tempat.
d.      Pada saat saudara berbicara pastikan klien tahu tempat saudara.
e.       Katakan pada klien apa yang dapat mebantunya seperti lampu, membacakan.
f.       Biarkan klien memegang tangan saudara sebagai petunjuk dan jelaskan apa yang sedang saudara kerjakan.
g.      Jelaskan jalan – jalan apa bisa dilalui oleh klien.
h.      Sanjunglah kemampuan beradaptasi dan kemandirian klien.
4.      Lansia dengan Afasia
Afasia merupakan gangguan fungsi bahasa yang disebabkan cidera atau penyakit pusat otak. Ini termasuk gangguan kemampuan membaca dan menulis dengan baik, demikian juga bercakap – cakap, mendengar, berhitung, menyimpulkan dan pemahaman terhadap sikap tubuh. Dimana penyebab afasia pertama adalah stroke, cedera kepala, dan tumor otak (Brunner dan Siddart, 2001).
5.      Lansia dengan penyakit Alzheimer :
Penyakit Alzheimer (AD) kadang disebut sebagai demensia degeneratif primer atau demensia senil jenis Alzheimer (SDAT) merupakan penyakit neurologis degeneratif, progresif, ireversibel, yang muncul tiba – tiba dan ditandai dengan penurunan bertahap fungsi kognitif dan gangguan perilaku dan efek (Brunner dan Siddart, 2001).
Keadaan yang terjadi pada pasien yang menderita Alzheimer diantaranya terjadi keadaan mudah lupa dan kehilangan ingatan bahkan klien dapat kehilangan kemampuannya mengenal wajah, tempat, dan objek yang sudah dikenalnya serta kehilangan suasana kekeluargaannya. Perubahan kepribadian biasanya negatif. Pasien dapat menjadi depresif, curiga, paranoid, kasar, dan bahkan kejam. Kemampuan berbicara buruk sampai pembentukan suku kata yang tidak masuk akal. Perawatan diri memerlukan bantuan, termasuk makan dan toileting.
Teknik komunikasi yang digunakan adalah :
a.       Selalu berkomunikasi dari depan lansia.
b.      Bicaralah dengan cara dan nada yang normal.
c.       Bertatap muka.
d.      Mnimalkan gerakan tangan.
e.       Menghargai dan pertahankan jarak.
f.       Cegah setting ruangan yang memberikan stimulasi yang banyak.
g.      Pertahankan kontak mata dengan senyum.
h.      Ikuti langkah klien dan bicaralah padanya.
i.        Bertanyalah hanya dengan satu pertanyaan.
j.        Mengangguklah dantersenyum bila memahami perkataannya.
6.      Lansia yang menunnjukkan kemarahan :
a.       Klarifikasi penyebab marah yang terjadi.
b.      Bantu dan dorong klien mengungkapkan marah dengan konstruktif.
c.       Gunakan pertanyaan terbuka.
d.      Luangkan waktu setiap hari bersama klien.
e.       Puji dan dukung setiap usaha dari klien.
7.      Lansia yang mengalami kecemasan :
a.       Dengarkan apa yang dibicarakan klien.
b.      Berikan penjelasan secara ringkas dan jelas apa yang terjadi.
c.       Identifikasi bersama klien sumber – sumber yang menyebabkan ketegangan atau keemasan.
d.      Libatkan staf dan anggota keluarga.
8.      Lansia yang menunjukkan penolakan :
a.       Kemukakan kenyataan perlahan lahan.
b.      Jangan menyokong penolakan klien.
c.       Bantu klien mengungkapkan keresahan atau perasaan sedihnya.
d.      Libatkan keluarga.
9.      Lansia yang mengalami depresi :
a.       Lakukan kontak sesering mungkin.
b.      Beri perhatian terus – menerus.
c.       Libatkan klien dalam menolong dirinya sendiri.
d.      Gunakan pertanyaan terbuka.
e.       Libatkan staf dan anggota dalam memberikan perhatian.

2.3.2        Tips untuk Komunikasi yang Efektif dengan Pasien lanjut usia
a.       Strategi Umum
1.      Persiapkan lingkungan ruang pemeriksaan, memperbanyak penerangan dan menurunkan kebisingan (mempertimbangkan kemungkinan berkurangnya penglihatan dan pendengaran).
2.      Memanggil pasien dan anggota keluarga dengan sebutan “Bapak” atau “Ibu” dan menghindarkan sebutan “manis”, “sayang”, atau “cintaku”.
3.      Bicaralah dengan pelan, jelas, tanpa berteriak, menggunakan nada yang kalem dan ekspresi yang menyenangkan.
4.      Gunakan sentuhan lembut dengan sentuhan ringan di tangan, lengan, atau bahu.
5.      Pertahankan langkah yang tidak tergesa-gesa, membiarkan pasien selama beberapa menit untuk mengekspresikan masalahnya jika mampu.
6.      Memastikan bahwa agenda pasienlah yang anda hadapi.
7.      Meminta pasien lanjut usia untuk mengulang kembali setiap instruksi yang penting.
8.      Memberikan instruksi tertulis paling tidak dengan huruf berukuran 14.
9.      Ingatlah pentingnya masalah psikososial ketika merawat pasien lanjut usia.
b.      Gangguan Kognitif Pasien
1.      Jangan mengabaikan pasien.
2.      Bertanyalah dengan pertanyaan sederhana yang hanya memerlukan jawaban “ya” atau “tidak” dan bahasa tubuh sederhana.
3.      Ketika melakukan pemeriksaan, berikan instruksi satu persatu.
c.       Pertemuan dengan Keterlibatan Pihak Ketiga.
1.      Persiapkan lingkungan ruang pemeriksaan dengan 3 kursi dalam bentuk segitiga.
2.      Pada mulanya berikan pertanyaan kepada pasien, kemudian mintalah masukan dari pendamping pasien.
3.      Mintalah pasien dan pendamping pasien untuk mengulang kembali setiap instruksi yang penting.


BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Ciri hubungan atau komunikasi terapeutik adalah berpusat pada klien lansia, menghargai klien lansia sebagai individu yang unik dan bebas, meningkatkan kemampuan klien lansia untuk berpartisipasi dengan aktif dalam mengambil keputusan mengenai pengobatan dan perawatannya, menghargai keluarga, kebudayaan, kepercayaan, nilai-nilai hidup dan asasi dari klien lansia, menghargai privasi dan kerahasiaan hubunga pemberi asuhan atau perawat dengan klien lansia, dan saling percaya, menghargai, dan saling menerima.
Hubungan membantu ini akan menjadi lebih efektif apabila ada rasa saling percaya dan saling menerima antara perawat atau pemberi asuhan harus menunjukkan rasa peduli pada kliennya (lansia) dan mau membantunya.

3.2    Saran
Seorang perawat atau pemberi asuhan yang mendengarkan klien lansia tidak saja memakai telinganya tetapi seluruh eksistensi dirinya. Perawat atau pemberi asuhan memfokuskan seluruh perhatiannya tidak hanya pada apa yang disampaikan lansia, tetapi bagaimana lansia itu menyampaikannya. Melalui sikap tubuh dari perawat atau pemberi asuhan, lansia dapat merasakan apakah perawat atau pemberi asuhan siap dan berminat untuk mendengarkannya.












DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, Wahjud. 2008. Keperawatan Gerontik & Geriatrik. Jakarta : EGC.
Nugroho, Wahudi. 2009. Komunikasi dalam Keperawatan Gerontik. Jakarta : EGC.
Mundakir. 2006. Komunikasi Keperawatan Aplikasi dalam Pelayanan. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Brunner & Suddarth.2001.Keperawatan Medikal-Bedah edisi 8 volume 1.Jakarta : EGC
Keliat, Anna. 1996. Hubungan Terapeutik. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar